Yuk... Wisata ke Pulau Penyengat, Wujud Cinta Sang Raja ke Pujaan Hatinya


pulau penyengat 1
PULAU Penyengat sangat dikenal luas di Tanah Air dan banyak dikunjungi wisatawan. Baik dari dalam maupun dari luar negeri. Umumnya wisatawan tertarik pada sejarah di pulau ini. Selain wisata religi.

Pulau ini terletak sekitar 1,5 mil laut dari Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Sarana transportasi pompong menjadi satu-satunya sarana umum, yang digunakan untuk ke pulau ini.

Sejak April 2018, Pulau Penyengat sudah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya nasional. Pulau ini memang sarat dengan sejarah kejayaan Kerajaan Riau Lingga.

Sejumlah bangunan bernilai sejarah tinggi hingga masih kokoh. Seperti bangunan Masjid Sultan Riau, yang awalnya dibangun sekitar tahun 1803. Dan, dipugar sekitar tahun 1832.

Masjjd Usia 217 Tahun dan Tetap Kokoh

Di usianya yang sudah sekitar 217 tahun, masjid ini masih berdiri gagah dan kokoh. Inilah masjid tertua di Provinsi Kepulauan Riau dan Provinsi Riau.

Masjid berukuran sekitar 18 x 20 meter persegi ini didominasi warna hijau dan kuning. Dindingnya tebal khas bangunan kuno.

Usia tuanya dan bangunannya yang masih sangat kokoh, menjadikan masjid ini sebagai tempat yang paling banyak dikunjungi. Apalagi di masjid ini tersimpan Alquran bertuliskan tangan yang dibuat tahun 1867.

Selain untuk beribadah, pengunjung juga menjadikannya sebagai obyek foto yang instagramable. Karenanya, foto masjid ini dapat dengan mudah ditemui di media sosial.

Selain bangunan masjid berusia ratusan tahun, di pulau ini juga terdapat sejumlah bangunan berdinding tembok. Dan, dengan arsitektur khas pada masa itu.

Istana dan Kantor Perdana Menteri

pulau penyengat 2
Di antara bangunan yang masih kokoh berdiri hingga sekarang, adalah Istana Kantor. Disebut begitu karena bangunan ini memang menjadi tempat tinggal,.

Sekaligus kantor Yang Dipertuan Muda (setara Perdana Menteri di zaman now) Riau VIII Raja Ali (1844-1857).

Bangunan itu dibangun di awal kekuasaan YDM Raja Ali, yakni tahun 1844. Hingga kini masih terlihat megahnya dan juga kokoh. Bisa dibayangkan betapa besarnya kejayaan Kerajaan Riau Lingga di masa itu.

Pemerintahan kerajaan memang dikendalikan Perdana Menteri (YDM) dan berpusat di pulau ini. Itu sebabnya ada banyak sekali peninggalan bersejarah.

Jauh lebih banyak dibandingkan dengan di pusat kerajaan dan tempat berdomisili Yang Dipertuan Besar atau sultan (kepala negara) di Daik, Pulau Lingga.

Sultan akhirnya memindahkan pusat kerajaan ke pulau ini sekitar tahun 1900. Dan, membuat status pulau ini sangat lengkap.

Sebagai pusat pemerintahaan, pusat kerajaan atau ibu kota, pusat kebudayaan dan pusat pendidikan serta penyebaran agama Islam.

Wujud Cinta Sang Raja ke Pujaan Hatinya

Sebelumnya, pulau ini disebut juga dengan pulau mas kawin. Disebut seperti itu karena raja atau sultan yang berkuasa saat itu, Sultan Mahmud Syah III menjadikan pulau ini sebagai mas kawinnya.

Saat mempersunting putri Raja Haji Fisabilillah, yakni Engku Putri Hamidah sebagai istrinya di tahun 1801. Ini menjadi fakta, bahwa pulau ini juga menjadi wujud cinta sang raja kepada pujaan hatinya. Romantis kali.

Seperti disebut di atas, Sultan Mahmud Syah III ini yang pertama kali membangun Masjid Sultan Riau tahun 1803.

Jauh sebelum menjadi mas kawin raja, dan berkembang menjadi pusat pemerintahan sekaligus ibu kota kerajaan, pulau ini digunakan sebagai pusat pertahanan.

Jantung Pertahanan

pulau penyengat 3
Sebagai jantung pertahanan sejak sekitar tahun 1722. Yakni, saat kerajaan Johor Riau Lingga mulai berdiri tegak di hulu Sungai Carang. Menyusul perang saudara di Kesultanan Johor di Johor (kini bagian dari negara Malaysia).

Sebagai jantung pertahanan, pulau ini dilengkapi dengan beberapa buah benteng. Salah satu yang terkenal, adalah Benteng Bukit Kursi yang dikelilingi dengan meriam sundut.

Berbeda dengan benteng khas bangsa Eropa, yang berupa tembok tebal dan tinggi. Benteng di pulau ini tidak ada temboknya. Tapi, dikelilingi parit lebar dan dalam.

Selain Benteng Bukit Kursi, ada dua benteng lainnya di Pulau Penyengat, yakni Benteng Bukit Nibung yang di ujung barat pulau. Dan, Benteng Bukit Penggawa di ujung timur pulau.

Kedua benteng juga punya ciri serupa, dikelilingi parit yang dalam dan lebar. Tapi, ukuran benteng ini tidak seluas benteng utama, Benteng Bukit Kursi di puncak bukit di tengah-tengah pulau.

Tak banyak yang mengetahui kisah dua benteng itu. Penulis beruntung mendapat pengetahuan ini dari Raja Fahrul, penggiat wisata di Kota Tanjungpinang.

Jadi, pulau ini awalnya adalah kubu pertahanan, kemudian menjadi pulau cinta atau mas kawin raja. Dan kemudian menjadi pusat pemerintahan serta ibu kota kerajaan. Penasaran? Yuk berwisata ke Pulau Penyengat. ***

0 Response to "Yuk... Wisata ke Pulau Penyengat, Wujud Cinta Sang Raja ke Pujaan Hatinya"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel